Review Film Bucin 2020 Yang Kurang Memuaskan

Siapa sih yang tidak kenal dengan Chandra Liow? Youtuber yang terkenal akan konten-konten yang kreatif tengah memulai karirnya sebagai sutradara. Ya! Bucin adalah film pertama yang dibuat oleh Chandraliow dengan rumah produksi Rapi Films.

Andovi da Lopez serta Jovial da Lopez juga turut ikut dalam pembuatan film ini. Bukan hanya jadi pemain, Jovial da Lopez bahkan menjadi script-Writer film ini.

Bucin bercerita tentang 4 orang sahabat, Andovi, Tommi, Jovial, dan Chandra yang berusaha bebas dari toxic-nya hubungan percintaan mereka, atau lebih dikenal dengan bucin. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengikuti kelas anti bucin sebagai solusinya.

Bucin atau budak cinta adalah, tolong koreksi pada kolom komentar bila saya salah label yang disematkan ke seseorang yang hidupnya dikuasai kekasihnya, sederhananya ia sebutan kepada mereka yang takut sama pacar sendiri, atau rela melakukan apa pun demi sang kekasih. Entah istilah ‘bucin’ ini secara etimologi berasal dari mana, saya sendiri di kehidupan sehari-hari tak pernah menggunakan istilah yang terdengar norak tersebut. Tetapi, istilah ini disebut ratusan kali, disematkan dalam setiap dialog para karakter di film ini seperti “Ah, bucin lo!”, “Dasar bucin!”, “Lo bucin banget!”

1. Tema yang familiar namun dibuat dengan gaya escape room

Awalnya yang saya pikirkan ketika mendengar film ini muncul, “Paling cuman film komedi romantis pada umumnya. Gak ada spesial-spesialnya.” Namun ternyata dugaan saya salah.

Film ini dikemas dengan gaya escape room, namun tidak seperti film-film escape room pada umumnya. Ketika film-film escape room pada umumnya menceritakan tentang kabur, namun di film ini escape room seakan-akan menjadi ruang ujian yang bisa dibilang tidak menakutkan, namun cukup membuat penonton deg-degan dengan ujian “Kebucinan”nya.

Dari segi tempat, kurang menurut saya karena Escape Room ini bertapa menyadari kita dan bertapa BUCIN kita kepada pacar kita

2. Kualitas naskah yang kurang baik namun cukup menghibur

Memang, ada beberapa adegan dan scene yang kelihatannya tidak pantas untuk dimasukkan kedalam film. Namun, saya rasa kualitas naskah film ini bisa dibilang cukup baik untuk film awal Chandra sebagai sutradara.

 

3. Komedi yang cocok hanya untuk beberapa orang

Mungkin, sebagian orang akan merasa film ini memiliki komedi yang bisa membuat tertawa lepas, sebagian lagi merasa biasa saja, dan bahkan sebagian lagi akan merasa jijik dan menurut saya ada beberapa bagian yang gimana gitu sama lelucon yang ada di film ini

Rasa-rasanya Chandra memang sengaja memfokuskan cerita ini untuk anak-anak millenial yang memiliki kisah cinta yang relate dengan film ini. Wajar bila ada sebagian penonton dewasa yang tidak nyaman dengan komedinya. Yap! Komedi di film ini hanya cocok untuk beberapa orang, tidak semuanya.

4. Pengambilan gambar dan kualitas editing yang cukup bagus

Film ini memiliki kualitas gambar yang baik, mulai dari ketika scene di ruang escape room, di rumah tokohnya, dan lainnya dibuat dengan apik dan memukau. Rasanya cukup pas dengan tema film yang mengambil unsur romantic komedi.

5. Emosi yang nanggung

Beberapa akting pemainnya menurut saya sudah cukup bagus. Andovi dengan kebucinannya, tommi dengan cara bicara dengan pacarnya yang unik, Jovial yang terlihat dingin, dan Chandra yang emang sengaja dibuat garing. Tapi maaf, untuk scene sedih, agak kurang menggetarkan hati.

6. Pesan moral yang relate dengan anak muda sekarang

Film ini sukses membuat saya sebagai penonton merasa “Ini film gue banget” yang kadang masih suka melakukan segala hal untuk orang yang saya cinta

Leave A Reply

Your email address will not be published.